Fenomena
kawasan karst merupakan fenomena unik yang terdapat di permukaan bumi. Secara
geomorfologis, kawasan karst merupakan daerah yang dominan berbatuan karbonat.
Kawasan karst merupakan kawasan yang mudah rusak. Batuan dasarnya mudah larut
sehingga mudah sekali terbentuk gua-gua bawah tanah dari celah dan retakan.
Mulai banyaknya permukiman penduduk yang terdapat di daerah ini akan
berpengaruh terhadap tingginya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Istilah
karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa
Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah ‘krst / krast’ yang merupakan nama
suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota
Trieste. kosistem Karst adalah areal-areal yang mempunyai lithologi dari bahan
induk kapur
Ada juga
yang menyimpulkan bahwa jika ada sebuah daerah yang memiliki banyak sungai
bawah tanah sering sekali dijuluki dengan Kawasan karst. Salah satu kondisi
wilayah karst yang paling terlihat oleh mata adalah sebuah daerah yang kering
dan panas pada permukaan tanah namun di bawah tanah menyimpan volume air dalam
jumlah besar Genesis bentangalam karst ,Terbentuk karena batuan muda
dilarutkan dalam air dan membentuk lubang-lubang. Terjadi pada wilayah yang tersusun
oleh batugamping, batuan dolomit atau gamping dolomitan. Berkembang di daerah
yang mempunyai curah hujan cukup.
Ekosistem
karst memiliki sebuah keunikan sendiri, baik secara fisik, maupun dalam aspek
keanekaragaman hayati. Sifat yang rentan dari biota gua, merupakan sebuah
indikator penting terhadap perubahan lingkungan. Belum banyak jenis biota gua
Indonesia yang diungkapkan. Baru beberapa jenis udang gua (Macrobrachium
poeti), kalanjengking gua dari Maros (Chaerilus sabinae), kepiting
gua buta (Cancrocaeca xenomorpha), kepiting mata kecil (Sesarmoides
emdi), isopoda gua (Cirolana marosina), Anthura munae,
kumbang gua (Eustra saripaensis), Mateullius troglobiticus, Speonoterus
bedosae, ekorpegas gua (Pseudosinella maros), Stenasellus
covillae, S. stocki, S., dan S. Monodi dan S. javanicus dari Karst
Cibinong.
Yang juga
menjadi arti penting kawasan karst adalah ketersediaan air tanah yang sangat
dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya. Termasuk di dalamnya
ketersediaan air tawar (dan bersih) bagi kehidupan manusia, baik untuk
keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.
Proses
pengrusakan yang lebih besar dilakukan oleh kepentingan industri. Langkanya
semen kemudian dijadikan dallih untuk melegalkan upaya penambangan di kawasan
ekosistem karst. Padahal, di Indonesia kawasan ini tak lebih dari 15,4 juta
hektar dan 192 juta hektar lahan daratan negeri. Penggunaan bahan peledak untuk
menghancurkan batuan pun, menambah proses kehancuran sistem yang ada di kawasan
karst.
Masih begitu
banyak keunikan yang dimiliki oleh ekosistem karst, yang menjadikan kawasan ini
bernilai penting bagi kehidupan. Termasuk, di saat terjadi kekeringan, maka
kawasan ini merupakan tempat diperolehnya tetesan air. Sungai-sungai bawah
tanah masih akan terus mengaliri sungai permukaan, selama kawasan ini terjaga.
Karst,
merupakan kawasan terakhir untuk berkehidupan. Kemampuan kawasan ini
menyediakan kebutuhan udara, air dan sumber pakan, menjadi kelebihan kawasan
ini. Pada fase awal peradaban pun, lebih banyak makhluk hidup yang
menggantungkan hidupnya di kawasan karst. Karenanya, banyak ditemui lukisan di
dinding gua, yang kemudian juga menjadi catatan atas sejarah kehidupan.
Kawasan
karst merupakan kawasan yang kompleks, dan dibutuhkan pengertian serta
pengetahuan yang lebih mendalam untuk pengelolaannya. Oleh karena itu,
diperlukan suatu upaya pengelolaan yang tepat untuk meminimalisir segala
potensi permasalahan yang mungkin terjadi
Kita dapat
menentukan bidang gua-gua
dalam istilah yang sesuai dengan bentuk lahan dan dihubungkan dengan proses
bentuk bumi. Daerah karst umumnya dicirikan dengan adanya closed depression,
drainase permukaan dan gua. Daerah ini dibentuk
terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping yang lazim dan relatif
mendekati. Tetapi pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat
lain misalnya dolomit,
dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana
ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Semua
tersebut diatas adalah benar-benar karst. Daerah karst dapat juga terbentuk
oleh proses yang lain – cuaca, kegiatan hidrolik,
pergerakan tektonik,
air dari pencairan salju
dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan
pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bent.
Perlindungan
kawasan karst menjadi penting dan mendesak. Saat ini baru sebagian kecil
kawasan karst di negeri ini yang memperoleh kehidupan. Sama halnya dengan
kawasan ekosistem kerangas yang masih sangat terancam keberadaannya. Semakin
banyak ekosistem unik dan langka di negeri ini yang tak mampu bertahan diantara
relung keserakahan segelintir kelompok manusia. Kawasan karst merupakan kawasan
yang kompleks, dan dibutuhkan pengertian serta pengetahuan yang lebih mendalam
untuk pengelolaannya. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya pengelolaan yang
tepat untuk meminimalisir segala potensi permasalahan yang mungkin terjadi.
Kita dapat
menentukan bidang gua-gua
dalam istilah yang sesuai dengan bentuk lahan dan dihubungkan dengan proses
bentuk bumi. Daerah karst umumnya dicirikan dengan adanya closed depression,
drainase permukaan dan gua. Daerah ini dibentuk
terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping yang lazim dan relatif
mendekati. Tetapi pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat
lain misalnya dolomit,
dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana
ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Semua
tersebut diatas adalah benar-benar karst. Daerah karst dapat juga terbentuk
oleh proses yang lain – cuaca, kegiatan hidrolik,
pergerakan tektonik,
air dari pencairan salju
dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan
pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu).
Kawasan
karst Indonesia mencakup wilayah yang cukup luas dan dijumpai hampir di setiap
pulau dan menyimpan nilai strategis yang tinggi bagi manusia, flora, fauna dan
perkembangan ilmu khususnya kebumian. Pulau Jawa sendiri memiliki beberapa
kawasan karst yang tersebar di beberapa daerah seperti di Pacitan, Gombong,
Tuban, Malang Selatan dan Gunung Sewu. Bahkan Gunung Sewu adalah salah satu
kawasan karst yang menjadi salah satu warisan dunia yang harus dijaga
kelestariannya.
II.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOPOGRAFI KARST
Bentuk lahan
solusional ini terbentuk akibat proses pelarutan batuan yang terjadi pada
daerah berbatuan karbonat tertentu. Tidak semua batuan karbonat tersebut dapat
membentuk topografi karts, faktor lain yang dapat membentuk topografi karts
adalah:
- Batuan mudah larut
- Terletak pada daerah tropis basah dengan topografi tinggi
- Vegetasi penutup cukup rapat
Batuan
karbonat yang banyak memiliki diaklas akan memudahkan air untuk melarutkan
batuan CaCo3. Oleh karena itu batuan karbonat yang memiliki sedikit diaklas,
walaupun terletak pada daerah dengan curah hujan cukup tinggi, tidak terbentuk
topografi karts. Vegertasi yang rapat akan menghasilkan humus, yang menyebabkan
air di daerah tersebut memiliki Ph yang rendah atau air menjadi asam. Pada
kondisi asam, air akan mudah untuk melarutkan batuan karbonat. Perpaduan antara
batuan karbonat dengan banyak diaklas, curah hujan dan suhu yang tinggi, serta
vegetasai yang lebat akna mendorong terjadinya topografi karts.
Menurut
proses terjadinya bentuklahan asal proses solusional ini dibedakan menjadi 3
macam, yaitu :
- Bentuk sisa ( residual form)
Dari proses
in terdapat dua macam bentukan yang terjadi pada proses residual form ini,
yaitu kubah karts dan menara karts. Kubah karts merupakan bentukan yang
memnyerupai dome. Bentuk ini dipisahkan oleh cockpit yang satu sama lain
berhubungan. Selain itu juga dipisahkan oleh dataran alluvial karts. Kubah
karts memiliki ketinggian yang seragam. Sedangkan menara karts memiliki lereng
yang curam sampai tegak atau vertikal yang terpisah satu sama lain dan
sebarannya lebih jarang.
Bentuk
erosional (solusional form)
Gambar di
atas menunjukan bagian dan penyusun topografi Karst, yang terdiri dari berbagai
macam bentuk lahan
Asal mula
topografi karst adalah adanya pengendapan gamping didasar laut, kemudian
terangkat di atas muka air laut dan selanjutnya oleh air hujan batu gamping
tersebut terlarutkan menjadi bentuk-bentuk kubah, dan cekungan.
Syarat-syarat
perkembangan
- Batuan mudah larut (CaCO3 dan CaMgCO3)
- Batuan tersebut tebal
- Banyak rekahan (diaklas)
- Vegetasi rapat
Daerah
tropik basah
Dimana
terjadi proses pelarutan Kalsium Karbonat oleh air
CaCO3
+ H2O + CO2 Ca(HCO3)2
Reaksi kimia
dan keseimbangannya pada proses pelarutan batugamping
H2O
+ CO2 H2CO3
2H2CO3
+ CaCO3 Ca(HCO3)2 + H2
Bila
batugamping sudah terlarut biasanya akan menyisakan bagian-bagian yang tidak
dapat larut dalam air, terbentuk persenyawaan karbonat. Sisa-sisa ini
berkomposisi besi, berwarna merah atau merah coklat.
Ada beberapa
proses pembentukan rupa bumi karst, dan memiliki tahapan yang terjadi. Di
kawasan karst yang udah dianggap lazim di dunia yaitu di sebelah timur
laut Adriatic. Di kawasan ini batua-batunya mengalami patahan dan retakan yang
hebat. Tahap pertama hanya terjadi aliran batu kapur. Walaupun begitu, aliran
di permukaan tanah adalah hal yang suddah biasa. Kadang juga ditemukan
lekukan-lekukan yang mempunyai sisi yang curam yang berasak dari proses gerak
bumi. Dan di tengah-tengahnya ada retakan yang biasa disebut poljes.
Bentuk-bentuk ini adalah bentukan kawasan karst yang sudah biasa ditemui di
kawasan karst yang sudah mengalami perubahan seperti yang ada di Kentucky.
Aliran di kawasan ini ditemukan bahwa mengikuti zona-zona patahn dan lipatan.
Proses yang
kedua adalah bentuk-bentuk dolin ataupun tekukan yang berbentuk corong, semakin
bertambah banyak, sehingga hamper mencangkup hamper seluruh dari kawasan
tersebut. Bentuk-bentuk aliran di permukaan tanah mulai digantikan oleh aliran
di bawah permukaan tanah. Beberapa dolin menjadi bertambah besar, yang
dikarenakan oleh pengikisan-pengikisan bagian tepi dari dolin dan runtuhan dari
goa-goa batu tadi.sehingga beberapa dlon bertemu dan membentuk suatu lekukan
yang panjang. Yang bebentuk seperti lorong panjang yang disebut uvalas.
Pada proses
berikutnya dimana keadaan rndah tinggi berada di banyak bagian dan permukaan
tanah hlang. Dari dolin-dolin yang tererosi tadi tanahnya dialirkan ke daerah
yang lebih rendah, sehingga lembah-lembah menjelma menjadi shale yang di
bawahnya terdapat aliran yang tidak tetap. Aliran-aliran anak sungai yang
tadinya mengalir jauh di atas permukaan tanah mulai mengalir kedalm tanah
karena batu kapur yang tekikis oleh perkembangan foa dalm tanah. Permukan yang
masih memiki batu kapur permuakaanya tidak merata yang membentuk puncak-puncak
serta rangkaian lapies yang terjadi karena pelarutan yang terjadi di
sepanjang retakan batu yang terjadi bertahun-tahu. Bentuk ini berbentuk seperti
kulit kerang yang di dalamnya terdiri dar beberapa goa.
Proses
terakhir dimana sistem biasa ank-anak sungai dipermukaan bumi yang memenuhi
permukaan tanah. Lapisan batuan itu yang menonjol di hamper semua daerah.
Diatasnya terdapat bukit kecil (hums) yang letaknya tidak terlihat diantara
bukit-bukit (hums) yang lain.
Perkembangan
topografi karst dapat dilihat pada gambar di atas, dimana aliran air sangat
berpengaruh pada proses pembentukan goa-goa bawah tanah dan pada aliran air
bawah tanah yang sangat kompleks.
Topografi
Karst di Wilayah Gombong Selatan dan gunung sewu. Tampak Jelas dari tekstur
permukaan karst adalah kasar, dan umumnya berada disekeliling pegunungan
yang dahulu merupakan laut dangkal sehingga berkembang karang-karang yang
mengakibatkan permukaan laut dangkal itu menjadi sangat kasar. Gambar ini
menunjukan bagaimana cirri khas daerah karst yang memiliki relief yang sangat
kompleks.
III. BENTUK
LAHAN BENTUKAN SOLUSIONAL KARST
Bentuk-bentuk
di atas adalah “KEGEL KARST” yang perkembangan-nya mengikuti diaklas didaerah
hujan tinggi. Kalau bentuknya seperti menara (“tower”) disebut “TURMS KARST”,
banyak berkembang didaerah kering (“arid)
Karren yang
di tunjukan oleh gambar sebelah kiri pada gambar diatas, dan dinding goa yang
ada paga goa Karst yang berupa tirai dari endapan kalsit.
Gambar satu
(I) adalah aliran sungai bawah tanah yang menjadi aliran sungai permukaan,
biasa disebut resurgence. Kemudian gambar II adalah gambar lembah karst yang
kering.
Kemudian
bentukan lainya adalah dome, yang berbentuk kubah yang dihasilkan dari sisa
pelapukan batuan karbonat dengan erosi vertical dan horizontal yang seimbang.
Menara karstyang memiliki lereng curam hamper tegak, karena erosi vertical yang
dominan. Uvala yaitu bentukan gabungan dari beberapa doline. Dan colum yang
terjadi akibat akumulasi terus menerus dari stalaktit dan stalagmite sehingga
stalaktit dan stalagmit tersambung tanpa terputus.
Sebelum di
rancang strategi pengelolaan ekosistem karst, perlu diidentifikasikan terlebih
dahulu potensi dan permasalahan yang muncul dari komponen-komponen ekosistem
meliputi komponen abiotik, biotik dan sosial. Hasil dari identifikasi potensi
dan masalah tersebut dijadikan acuan dalam menyusun strategi pengelolaan
ekosistem karst dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip keseimbangan dan
kelestarian antar komponen ekosistem., air, rendahnya pendapatan, kemiskinan
dll.
Komunitas
lokal pun telah memiliki sebuah sistem untuk melakukan pelestarian terhadap
kawasan karst dan hidupan yang ada di dalamnya. Namun kemudian, telah banyak
peneliti yang melakukan pengambilan spesimen dengan dalih untuk kepentingan
pengetahuan. Selain juga, kelompok petualang yang melakukan “pengrusakan”
terhadap kawasan karst demi kesenangan pribadi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar