Kamis, 01 Maret 2012

GEOMORFOLOGI SOLUSIONAL (KARST)


Fenomena kawasan karst merupakan fenomena unik yang terdapat di permukaan bumi. Secara geomorfologis, kawasan karst merupakan daerah yang dominan berbatuan karbonat. Kawasan karst merupakan kawasan yang mudah rusak. Batuan dasarnya mudah larut sehingga mudah sekali terbentuk gua-gua bawah tanah dari celah dan retakan. Mulai banyaknya permukiman penduduk yang terdapat di daerah ini akan berpengaruh terhadap tingginya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah ‘krst / krast’ yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste. kosistem Karst adalah areal-areal yang mempunyai lithologi dari bahan induk kapur
Ada juga yang menyimpulkan bahwa jika ada sebuah daerah yang memiliki banyak sungai bawah tanah sering sekali dijuluki dengan Kawasan karst. Salah satu kondisi wilayah karst yang paling terlihat oleh mata adalah sebuah daerah yang kering dan panas pada permukaan tanah namun di bawah tanah menyimpan volume air dalam jumlah besar Genesis bentangalam karst ,Terbentuk karena batuan muda dilarutkan dalam air dan membentuk lubang-lubang. Terjadi pada wilayah yang tersusun oleh batugamping, batuan dolomit atau gamping dolomitan. Berkembang di daerah yang mempunyai curah hujan cukup.
Ekosistem karst memiliki sebuah keunikan sendiri, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman hayati. Sifat yang rentan dari biota gua, merupakan sebuah indikator penting terhadap perubahan lingkungan. Belum banyak jenis biota gua Indonesia yang diungkapkan. Baru beberapa jenis udang gua (Macrobrachium poeti), kalanjengking gua dari Maros (Chaerilus sabinae), kepiting gua buta (Cancrocaeca xenomorpha), kepiting mata kecil (Sesarmoides emdi), isopoda gua (Cirolana marosina), Anthura munae, kumbang gua (Eustra saripaensis), Mateullius troglobiticus, Speonoterus bedosae, ekorpegas gua (Pseudosinella maros), Stenasellus covillae, S. stocki, S., dan S. Monodi dan S. javanicus dari Karst Cibinong.
Yang juga menjadi arti penting kawasan karst adalah ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya. Termasuk di dalamnya ketersediaan air tawar (dan bersih) bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.
Proses pengrusakan yang lebih besar dilakukan oleh kepentingan industri. Langkanya semen kemudian dijadikan dallih untuk melegalkan upaya penambangan di kawasan ekosistem karst. Padahal, di Indonesia kawasan ini tak lebih dari 15,4 juta hektar dan 192 juta hektar lahan daratan negeri. Penggunaan bahan peledak untuk menghancurkan batuan pun, menambah proses kehancuran sistem yang ada di kawasan karst.
Masih begitu banyak keunikan yang dimiliki oleh ekosistem karst, yang menjadikan kawasan ini bernilai penting bagi kehidupan. Termasuk, di saat terjadi kekeringan, maka kawasan ini merupakan tempat diperolehnya tetesan air. Sungai-sungai bawah tanah masih akan terus mengaliri sungai permukaan, selama kawasan ini terjaga.
Karst, merupakan kawasan terakhir untuk berkehidupan. Kemampuan kawasan ini menyediakan kebutuhan udara, air dan sumber pakan, menjadi kelebihan kawasan ini. Pada fase awal peradaban pun, lebih banyak makhluk hidup yang menggantungkan hidupnya di kawasan karst. Karenanya, banyak ditemui lukisan di dinding gua, yang kemudian juga menjadi catatan atas sejarah kehidupan.
Kawasan karst merupakan kawasan yang kompleks, dan dibutuhkan pengertian serta pengetahuan yang lebih mendalam untuk pengelolaannya. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya pengelolaan yang tepat untuk meminimalisir segala potensi permasalahan yang mungkin terjadi
Kita dapat menentukan bidang gua-gua dalam istilah yang sesuai dengan bentuk lahan dan dihubungkan dengan proses bentuk bumi. Daerah karst umumnya dicirikan dengan adanya closed depression, drainase permukaan dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping yang lazim dan relatif mendekati. Tetapi pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Semua tersebut diatas adalah benar-benar karst. Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses yang lain – cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bent.
Perlindungan kawasan karst menjadi penting dan mendesak. Saat ini baru sebagian kecil kawasan karst di negeri ini yang memperoleh kehidupan. Sama halnya dengan kawasan ekosistem kerangas yang masih sangat terancam keberadaannya. Semakin banyak ekosistem unik dan langka di negeri ini yang tak mampu bertahan diantara relung keserakahan segelintir kelompok manusia. Kawasan karst merupakan kawasan yang kompleks, dan dibutuhkan pengertian serta pengetahuan yang lebih mendalam untuk pengelolaannya. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya pengelolaan yang tepat untuk meminimalisir segala potensi permasalahan yang mungkin terjadi.
Kita dapat menentukan bidang gua-gua dalam istilah yang sesuai dengan bentuk lahan dan dihubungkan dengan proses bentuk bumi. Daerah karst umumnya dicirikan dengan adanya closed depression, drainase permukaan dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping yang lazim dan relatif mendekati. Tetapi pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Semua tersebut diatas adalah benar-benar karst. Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses yang lain – cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu).
Kawasan karst Indonesia mencakup wilayah yang cukup luas dan dijumpai hampir di setiap pulau dan menyimpan nilai strategis yang tinggi bagi manusia, flora, fauna dan perkembangan ilmu khususnya kebumian. Pulau Jawa sendiri memiliki beberapa kawasan karst yang tersebar di beberapa daerah seperti di Pacitan, Gombong, Tuban, Malang Selatan dan Gunung Sewu. Bahkan Gunung Sewu adalah salah satu kawasan karst yang menjadi salah satu warisan dunia yang harus dijaga kelestariannya.


II. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOPOGRAFI KARST 

Bentuk lahan solusional ini terbentuk akibat proses pelarutan batuan yang terjadi pada daerah berbatuan karbonat tertentu. Tidak semua batuan karbonat tersebut dapat membentuk topografi karts, faktor lain yang dapat membentuk topografi karts adalah:
  • Batuan mudah larut
  • Terletak pada daerah tropis basah dengan topografi tinggi
  • Vegetasi penutup cukup rapat
Batuan karbonat yang banyak memiliki diaklas akan memudahkan air untuk melarutkan batuan CaCo3. Oleh karena itu batuan karbonat yang memiliki sedikit diaklas, walaupun terletak pada daerah dengan curah hujan cukup tinggi, tidak terbentuk topografi karts. Vegertasi yang rapat akan menghasilkan humus, yang menyebabkan air di daerah tersebut memiliki Ph yang rendah atau air menjadi asam. Pada kondisi asam, air akan mudah untuk melarutkan batuan karbonat. Perpaduan antara batuan karbonat dengan banyak diaklas, curah hujan dan suhu yang tinggi, serta vegetasai yang lebat akna mendorong terjadinya topografi karts.
Menurut proses terjadinya bentuklahan asal proses solusional ini dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
  1. Bentuk sisa ( residual form)
Dari proses in terdapat dua macam bentukan yang terjadi pada proses residual form ini, yaitu kubah karts dan menara karts. Kubah karts merupakan bentukan yang memnyerupai dome. Bentuk ini dipisahkan oleh cockpit yang satu sama lain berhubungan. Selain itu juga dipisahkan oleh dataran alluvial karts. Kubah karts memiliki ketinggian yang seragam. Sedangkan menara karts memiliki lereng yang curam sampai tegak atau vertikal yang terpisah satu sama lain dan sebarannya lebih jarang.
Bentuk erosional (solusional form)
Bentuk erosional (solusional form)
Gambar di atas menunjukan bagian dan penyusun topografi Karst, yang terdiri dari berbagai macam bentuk lahan
Asal mula topografi karst adalah adanya pengendapan gamping didasar laut, kemudian terangkat di atas muka air laut dan selanjutnya oleh air hujan batu gamping tersebut terlarutkan menjadi bentuk-bentuk kubah, dan cekungan.
Syarat-syarat perkembangan
  • Batuan mudah larut (CaCO3 dan CaMgCO3)
  • Batuan tersebut tebal
  • Banyak rekahan (diaklas)
  • Vegetasi rapat
Daerah tropik basah
Dimana terjadi proses pelarutan Kalsium Karbonat oleh air
CaCO3 + H2O + CO2 Ca(HCO3)2
Reaksi kimia dan keseimbangannya pada proses pelarutan batugamping
H2O + CO2 H2CO3
2H2CO3 + CaCO3 Ca(HCO3)2 +  H2
Bila batugamping sudah terlarut biasanya akan menyisakan bagian-bagian yang tidak dapat larut dalam air, terbentuk persenyawaan karbonat. Sisa-sisa ini berkomposisi besi, berwarna merah atau merah coklat.
http://derizkadewantoro.files.wordpress.com/2010/07/karst2.jpg?w=300&h=224
Ada beberapa proses pembentukan rupa bumi karst, dan memiliki tahapan yang terjadi. Di kawasan karst yang udah  dianggap lazim di dunia yaitu di sebelah timur laut Adriatic. Di kawasan ini batua-batunya mengalami patahan dan retakan yang hebat. Tahap pertama hanya terjadi aliran batu kapur. Walaupun begitu, aliran di permukaan tanah adalah hal yang suddah biasa. Kadang juga ditemukan lekukan-lekukan yang mempunyai sisi yang curam yang berasak dari proses gerak bumi. Dan di tengah-tengahnya ada retakan yang biasa disebut poljes. Bentuk-bentuk ini adalah bentukan kawasan karst yang sudah biasa ditemui di kawasan karst yang sudah mengalami perubahan seperti yang ada di Kentucky. Aliran di kawasan ini ditemukan bahwa mengikuti zona-zona patahn dan lipatan.
Proses yang kedua adalah bentuk-bentuk dolin ataupun tekukan yang berbentuk corong, semakin bertambah banyak, sehingga hamper mencangkup hamper seluruh dari kawasan tersebut. Bentuk-bentuk aliran di permukaan tanah mulai digantikan oleh aliran di bawah permukaan tanah. Beberapa dolin menjadi bertambah besar, yang dikarenakan oleh pengikisan-pengikisan bagian tepi dari dolin dan runtuhan dari goa-goa batu tadi.sehingga beberapa dlon bertemu dan membentuk suatu lekukan yang panjang. Yang bebentuk seperti lorong panjang yang disebut uvalas.
Pada proses berikutnya dimana keadaan rndah tinggi berada di banyak bagian dan permukaan tanah hlang. Dari dolin-dolin yang tererosi tadi tanahnya dialirkan ke daerah yang lebih rendah, sehingga lembah-lembah menjelma menjadi shale yang di bawahnya terdapat aliran yang tidak tetap. Aliran-aliran anak sungai yang tadinya mengalir jauh di atas permukaan tanah mulai mengalir kedalm tanah karena batu kapur yang tekikis oleh perkembangan foa dalm tanah. Permukan yang masih memiki batu kapur permuakaanya tidak merata yang membentuk puncak-puncak serta rangkaian lapies yang terjadi karena pelarutan yang terjadi di sepanjang retakan batu yang terjadi bertahun-tahu. Bentuk ini berbentuk seperti kulit kerang yang di dalamnya terdiri dar beberapa goa.
Proses terakhir dimana sistem biasa ank-anak sungai dipermukaan bumi yang memenuhi permukaan tanah. Lapisan batuan itu yang menonjol di hamper semua daerah. Diatasnya terdapat bukit kecil (hums) yang letaknya tidak terlihat diantara bukit-bukit (hums) yang lain.
Perkembangan topografi karst dapat dilihat pada gambar di atas, dimana aliran air sangat berpengaruh pada proses pembentukan goa-goa bawah tanah dan pada aliran air bawah tanah yang sangat kompleks.
Topografi Karst di Wilayah Gombong Selatan dan gunung sewu. Tampak Jelas dari tekstur permukaan karst adalah kasar, dan umumnya berada disekeliling pegunungan yang  dahulu merupakan laut dangkal sehingga berkembang karang-karang yang mengakibatkan permukaan laut dangkal itu menjadi sangat kasar. Gambar ini menunjukan bagaimana cirri khas daerah karst yang memiliki relief yang sangat kompleks.


III. BENTUK LAHAN BENTUKAN SOLUSIONAL KARST

Bentuk-bentuk di atas adalah “KEGEL KARST” yang perkembangan-nya mengikuti diaklas didaerah hujan tinggi. Kalau bentuknya seperti menara (“tower”) disebut “TURMS KARST”, banyak berkembang didaerah kering (“arid)
Karren yang di tunjukan oleh gambar sebelah kiri pada gambar diatas, dan dinding goa yang ada paga goa Karst yang berupa tirai dari endapan kalsit.
Gambar satu (I) adalah aliran sungai bawah tanah yang menjadi aliran sungai permukaan, biasa disebut resurgence. Kemudian gambar II adalah gambar lembah karst yang kering.
Kemudian bentukan lainya adalah dome, yang berbentuk kubah yang dihasilkan dari sisa pelapukan batuan karbonat dengan erosi vertical dan horizontal yang seimbang. Menara karstyang memiliki lereng curam hamper tegak, karena erosi vertical yang dominan. Uvala yaitu bentukan gabungan dari beberapa doline. Dan colum yang terjadi akibat akumulasi terus menerus dari stalaktit dan stalagmite sehingga stalaktit dan stalagmit tersambung tanpa terputus.
Sebelum di rancang strategi pengelolaan ekosistem karst, perlu diidentifikasikan terlebih dahulu potensi dan permasalahan yang muncul dari komponen-komponen ekosistem meliputi komponen abiotik, biotik dan sosial. Hasil dari identifikasi potensi dan masalah tersebut dijadikan acuan dalam menyusun strategi pengelolaan ekosistem karst dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip keseimbangan dan kelestarian antar komponen ekosistem., air, rendahnya pendapatan, kemiskinan dll.
Komunitas lokal pun telah memiliki sebuah sistem untuk melakukan pelestarian terhadap kawasan karst dan hidupan yang ada di dalamnya. Namun kemudian, telah banyak peneliti yang melakukan pengambilan spesimen dengan dalih untuk kepentingan pengetahuan. Selain juga, kelompok petualang yang melakukan “pengrusakan” terhadap kawasan karst demi kesenangan pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar